OTORITAS HADITS SEBAGAI SUMBER AJARAN ISLAM

PEMBAHASAN

OTORITAS HADITS SEBAGAI SUMBER AJARAN ISLAM

  1. A.    KEDUDUKAN DAN KEHUJJAHAN HADITS

Seluruh umat islam, telah sepakat bahwa hadits merupakan salah satu sumber ajaran islam. Keharusan mengikuti hadits bagi umat islam (baik berupa perintah maupun larangan) saran halnya dengan kewajiban mengikuti Al-Qur’an. Hal ini karena hadits merupakan mubayyin (penjelas) terhadap Al-Qur’an, karena itu siapa pun tidak akan bias memahami Al-Qur’an tanpa dengan memahami dan menguasai hadits. Begitu pula halnya menggunakan hadits tanpa Al-Qur’an. Karena Al-Qur’an merupakan dasar hokum pertama, yang didalamnya berisi garis besar syariat. Dengan demikian, antara hadits dengan Al-Qur’an memiliki kaitan sangat erat, untuk memahami dan mengamalkannya tidak bias dipisah-pisahkan atau berjalan sendiri-sendiri.

Untuk megetahui sejauh mana kedudukan hadits sebagai sumber ajaran islam, dapat dilihat dalil naqli (Al-Qur’an dan hadits) dan aqli  (rasional), seperti dibawah ini.

  1. 1.      Dalil Al-Qur’an

Banyak ayat Al-Qur’an yang menerangkan tetang kewajiban seseorang untuk tetap teguh beriman kepada Allah swt dan Rasul-Nya. Iman kepada Rasul saw sebagai utusan Allah swt, merupakan satu keharusan dan sekaligus kebutuhan setiap individu. Dengan demikian, Allah akan memperkokoh dan memperbaiki keadaan mereka. Hal ini, sebagaimana dijelaskan dalam surat Ali Imran : 17 dan al-Nisa’: 136

Selain Allah memerintahkan umat islam agar percaya kepada Rasul saw, juga meyerukan agar mentaati segala bentuk perundang-undagan dan peraturan yang dibawanya, baik berupa perintah maupun larangan. Tuntutan taat dan patuh kepada Rasul saw ini sama halnya tuntutan taat dan patuh kepada Allah swt. Banyak ayat Al-Qur’an yang berkenan dengan masalah ini.

Firman Allah dalam surat Ali Imran: 32 sebagai berikut:

“Katakanlah! Taatilah Allah dan Rasul-Nya, jika kamu berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak meyukai orang-orang kafir”.

  1. 2.      Dalam surat al-Hasyr: 7 Allah juga berfirman

“Apa yang diberikan Rasul kepadamu, terimalah dan apa-apa yang dilarangnya, maka tinggalkanlah. Dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras hukumannya-Nya”.

  1. 3.      Pada surat Ali Imran: 31

Ditegaskan pula, bahwa konsekuensi logis atau manifestasi dari kecintaan manusia kepada Allah adalah dengan mentaati Rasul-Nya, seperti firman-Nya:

Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu…”.

Dalam ilmu tasawwuf dijelaskan bahwa sebelum Allah menciptakan dunia dan seisinya, Dia (Allah) menciptakan terlebih dahulu nur Muhammad. Dan dengan nur Muhammad itu maka terciptalah dunia dan seisinya.

Ungkapan pada ayat diatas, menujukkan betapa pentingnya kedudukan hadits sebagai sumber ajaran islam yang dimanifestasikan dalam bentuk aqwal (ucapan), af’al (perilaku) dan taqrir Rasul saw.

  1. B.     DALIL HADITS RASUL SAW

Selain berdasarkan ayat-ayat Al-Qur’an di atas, kedudukan hadits juga dapat dilihat melalui hadits-hadits Rasul sendiri. Banyaknya hadits yang menggambarkan hal ini dan menujukkan perlunya ketaatan kepada perintahnya. Dalam salah satu pesannya, berkenan dengan keharusan menjadikan hadits sebagai pedoman hidup disamping Al-Qur’an. Rasul saw bersabda sebagai berikut:

ﻋﻦﻤﻟﻚﺃﻧﻪﺑﻠﻐﻪﺃﻦﺮﺴﻭﻞﺍﷲﺼﻠﻰﺍﷲﻋﻠﻴﻪﻭﺴﻠﻡﻘﺎﻞ

ﺗﺮﻜﺖﻔﻴﻜﻡﺃﻤﺮﻴﻦﻟﻦﺗﺿﻠﻮﺍﻤﺎﺗﻤﺴﻜﻡﺑﻬﻡﻜﺎﻮﺴﻨﺔﻨﺑﻴﻪ

Dinarasikan Malik secara balaghiyat  bahwa Rasulullah saw bersabda: Saya tinggalkan dua perkara yang kamu tidak akan tersesat apabila berpegang pada keduanya: Yakni Kitabullah (Al-Qur’an) dan sunnah Nabi-Nya (hadits). (HR. Malik).

Dalam hadits lain Rasulullah bersabda:

“Kalian Wajib berpegag teguh dengan sunah-ku dan sunah khulafa’ rasyidin yang mendapat petunjuk. Berpegang teguhlah kamu sekalian dengannya…”. (HR. Abu Daud).

Dalam salah satu taqrir rasul juga memberikan petunjuk kepada umat islam, bahwa dalam menghadapi berbagai persoalan hokum dan kemasyarakatan, kedua sumber ajaran, yakni Al-Qur’an dan hadits merupakan sumber asasi. Ini seperti terlihat pada dialog antara Rasul saw dengan Mu’adz ibn Jabal menjelaskan keberangkatannya ke negeri Yaman.

  1. C.    KESEPAKATAN ULAMA (IJMA’)

Umat islam kecuali mereka para peyimpang dan pembuat kebohongan, telah sepakat menjadikan hadits sebagai salah satu dasar hokum dalam beramal. Penerimaan mereka terhadap hadits seperti penerimaan mereka terhadap Al-Qur’an, karena keduanya sama-sama dijadikan sebagai sumber hukum islam.

Kesepakatan umat islam dalam mempercayai, menerima dan mengamalkan segala ketentuan yang tekandung di dalam hadits berlaku sepanjang zaman, sejak Rasulullah masih hidup dan sepeninggalnya, masa khlafa’ rasyidin, tabi’in, tabi’-tabi’in, atba’u tabi’-tabi’in serta masa-masa selanjutnya, dan tidak ada yang mengingkarinya sampai sekarang. Banyak diantara mereka yang tidak hanya memahami dan mengamalkan isi kandungannya, akan tetapi mereka menghafal, mentadwin, dan meyebarluaskan dengan segala upaya kepada generasi-generasi selanjutnya.

Di antara para sahabat misalnya, banyak peristiwa yang menujukan adanya kesepakatan menggunakan hadits sebagai sumber hukum islam, antara lain dapat diperhatikan peristiwa dibawah ini.

Pertama,ketika Abu Bakar dibai’at menjadi khalifah, ia pernah berkata: Saya tidak meninggalkan sedikit pun sesuatu yang diamalkan atau dilaksanakan oleh Rasulullah, sesungguhnya saya takut tersesat apabila meningglkan perintahnya.

Kedua, pada saat Umar berada di depan hajar Aswat, ia berkata: Saya tahu bahwa anda adalah batu. Seandainya saya tidak melihat Rasulullah menciummu, saya tidak akan menciummu.

Ketiga, pertama ditanyakan kepada Abdullah ibn Umar tentangketentuan shalat safar dalam Al-Qur’an. Ibn Umar menjawab: Allah swt telah mengutus Nabi Muhammad saw kepada kita dan kita tidak mengetahui sesuatu. Maka sesungguhnya kami berbuat sebagaimana Rasulullah saw berbuat.

Keempat,  dinarasikan Sa’id ibn al-Musayyab bahwa Utsman ibn Affan berkata: Saya duduk sebagaimana kedudukannya Rasulullah saw. Saya makan sebagaimana Rasulullah, dan saya shalat sebagaimana shalatnya Rasulullah.

Sikap para sahabat di atas, seutuhnya diwarisi oleh generasi berikutnya berikutnya secara berkesinambungan. Segala yang diterima dari para generasi sebelumnya, kemudian diwariskan kepada generasi berikutnya, baik semangat, sikap, maupun aktifitas mereka terhadap hadits Rasul saw. Berkaitan dengan ini, dapat dilihat juga bagaimana para tabi’in dan tabi’ tabi’in meyampaikan pesan dan saran-saranya kepada umat dan murid yang dibinanya, seperti berikut ini.

Pertama, al-A’masy berkata: Kalian harus mengikuti sunnah dan mengajarkan kepada anak-anak. Hal ini karena, pada saat nanti merekalah yang akan memelihara agama untuk kepentingan manusia.

Kedua, Waki berkata: Kalian harus mengikuti para imam mujtahid dan ulama muhaddits. Karena, mereka menulis apa yang dimilikinya dan pa yang mesti mereka kerjakan, berbeda halnya dengan ahli al-ahwa’ dan ahli al-ra’yi.

Ketiga, Mujahid berkata: kepada para muridnya: kalian jangan menulis kata-kataku, akan tetapi tulislah hadits Rasul saw.

Keempat, Abu Hanifah berkata: Jauhilah pendapat (ra’yu) tetang agama Allah swt! Kalian harus berpegang kepada al-sunnah. Barangsiapa yang meyimpang daripadanya, niscava is sesat”.

Apa yang dikemukakan di atas, tentu hanya contoh sebagian kecil saja dan sikap dan pandangan para ulama tentang hadits, yang menggambarkan betapa perhatian dan pandangan mereka yang sangat tinggi terhadap hadits sebagai sumber ajaran agama islam.

  1. 4.      Sesuai dengan Petunjuk Akal

Kerasulan Nabi Muhammad saw telah diakui dan dibenarkan oleh umat islam. Ini menujukkan adanya pegakuan bahwa Nabi Muhammad membawa missi untuk menegakkan amanat dari Dzat yang mengangkat kerasulan itu, yaitu Allah swt. Dari aspek akidah, Allah swt bahkan menjadikan kerasulan ini sebagai salah satu dari prinsip keimanan. Dengan demikian, manifestasi dan pengakuan dan keimanan itu mengharuskan semua umatnya mentaati dan mengamalkan segala peraturan atau perundang-undagan serta inisiatif beliau, baik yang beliau ciptakan atas bimbingan wahyu maupun hasil ijtihadnya sendiri.

Nabi dalam megembangkan missinya itu, terkadang hanya sekedar meyampaikan apa yang diterima dari Allah swt baik isi maupun formulasinya dan terkadang atas inisiatif sendiri dengan bimbingan ilham dari Tuhan. Namun juga tidak jarang Nabi membawakan hasil ijtihad semata-mata megenai satu masalah yang tidak ditunjuk oleh wavu yang juga tidak dibimbing oleh ilham. Kesemuanya itu merupakan hadits Rasul, yang terpelihara dan tetap berlaku sampai ada nas yang menasakhnya.

Menurut petujuk akal, Nabi Muhammad saw adalah Rasul Tuhan yang telah diakui dan dibenarkan umat islam. Beliau di dalam menjalankan tugas agama, kadang meyampaiakan peraturan hasil ketentuan beliau sendiri atas bimbingan ilham dari Tuhan. Dan tidak jarang pula menyampaikan hasil ijtihad beliau sendiri yang tidak ditunjuk oleh wahyu atau dibimbing oleh ilham.

Hasil ijtihad itu berlaku sampai ada nas yang menaskhnya. Oleh karena itu, sudah sepantasnya kalau hasil ijtihad beliau itu ditempatkan sebagai sumber hukum. Kepercayaan yang telah diberikan kepada beliau sebagai utusan Tuhan mengharuskan umat islam untuk mentaati semua peraturan yang dibawahnya.[1]

Itualh sebabnya, dalam kasus-kasus tertentu Allah memerintahkan kita untuk mengikuti  ulil amri. Sekiranya ulil amri mendapat legitimasi untuk diikuti, maka logikanya ketentuan Nabi pun lebih layak untuk didikuti. Dan fungsi hadits berikut nanti dapat mempertajam hujjiyah  hadits sebagai sumber hukum islam.

Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa hadits merupakan wahyu, oleh sebab itu layak dijadikan sebagai sumber hukum. Kalangan ulama memperdebatkan, apakah cara merujuk kepada Al-Qur’an dan hadits dilakukan secara berperingkat, yakni mencari argumentasi Al-Qur’an terlebih dahulu, sehingga apabila dirasa cukup, maka tidak lagi dibutuhkan pencarian dalam hadits. Maka kehujjahan hadits sering tereliminasi dengan anggapan bahwa hadits dianggap bertentangan dengan Al-Qur’an. Sebagai konsekuwensinya akan ditemukan banyak hadits shahih, namum divonis tidak valid. Sehingga hadits tersebut tidak dapat dijadikan hujjah.

Madzab yang kedua adalah dengan cara menujuk kepada Al-Qur’an dan hadits secara kebersamaan, yakni menjadikan kehujjahan hadits identik dengan kehujjahan Al-Qur’an, sehingga Al-Qur’an dan hadits harus dipahami secara komprehensif. Apabila ditemukan hadits yang pada dhahirnya seakan bertentangan dengan Al-Qur’an, maka dilakukan cara al-taufiq baina al-adillah (mengkompromikan berbagai ayat dan hadits yang tampaknya kontradiksi tersebut), dan hadits pertamakali dibukukan pada masa pemerintahan Umar bin Abdul Aziz.

B.FUNGSI HADITS TERHADAP AL-QUR’AN

Berdasarkan kedudukannya, Al-Qur’an  dan hadits sebagai pedoman dan sumber ajaran islam. Dan Al-Qur’an sebagai sumber hukum memuat ajaran-ajaran yang bersifat umumdan global dan hadits sebagai penjelas(mubayyin) isi kandungan Al-Qur’an tersebut. Sesuai dengan firmannya dalam Al-Qur’an surat al-Nahl: 44

Ì!$uZø9t“Rr&ur y7ø‹s9Î) tò2Ïe%!$# tûÎiüt7çFÏ9 Ĩ$¨Z=Ï9 $tB tAÌh“çR öNÍköŽs9Î) öNßg¯=yès9ur šcr㍩3xÿtGtƒ ÇÍÍr

             ‘’…Dan kami turunkan kepadamu Al-Qur’an agar kamu menerangkan kepada umat manusia’’

Fungsi hadits sebagai penjelasan terhadap Al-Qur’an itu bermacam-macam

Malik ibn Anas dan Al-Syafi’I menyebutkan beberapa fungsi diantaranya yaitu bayan al-taqrir, bayan al-tafsir, bayan al-tasyri’, bayan al-nasakh.

  1. Bayan al-Taqrir

Bayan al-Taqrir disebut juga dengan bayan al-ta’kid dan bayan al-itsbat. Maksud dari bayan ini ialahmenetapkan dan memperkuat apa yang diterangkan di dalam Al-Qur’an. Fungsi hadits dalam hal ini hanya memperkokoh isi kandungan Al-Qur’an. Seperti halnya dalam Al-Qur’an surat Al-Maida: 6 tentang wudhu’ yang berbunyi:

 Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, Maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki…’’.

Ayat di atas di-taqrir oleh hadits yang dikeluarkan al-bukhari dari abu Hurairah, yang berbunyi:

‘’Rasul saw bersabda: Tidak diterima shalat seseorang yang berhadats sampai ia berwudhu’’.(HR. Bukhari).

2.Bayan al-Tafsir

Maksud bayan al-Tafsir, adalah penjelasan hadits terhadap ayat-ayat yang memerlukan perinci/penjelasan lebih lanjut. Seperti pada ayat-ayat yang mujmal dan muthlaq. Maka fungsi hadits dalam hal ini, memberikan perincian (tafshil) dan penafsiran Al-Qur’an yang masih mujmal, memberikan taqyid ayat-ayat yang masih muthlaq.

  1. Merinci ayat-ayat yang mujmal

Ayat yang mujmal artinya  ayat yang ringkas/singkat dan mengandung ma’na yang perlu dijelaskan.Karena belum jelas maka diperlukan adanya penjelasan/perincian. Dalam Al-Qur’an banyak sekali ayat-ayat yang mujmal, yang memerlukan perincian. Sebagai contoh, ialah ayat-ayat tentang perintah ALLAH swt. Untuk mengerjakan sholat, puasa, jual beli, nikah, qishash, dan hudud. Hal ini dijelaskan tentang ayat-ayat tersebut. Bagaimana cara mengerjakannya, apa sebabnya, apa syarat-syaratnya, atau apa halanga-halangannya. Maka Rasul saw. Menafsirkan  dan menjelaskan secara terperinci.

Di antara contoh perinci itu dapat dilihat pada hadits yang berbunyi

“Shalatlah sebagaimana kalian melihat saya”. Perintah mengikuti shalatnya, sebagaimana dalam hadits tersebut, Rasul saw. Kemudian secara sempurna, bahkan Nabi melengkapinya dengan berbagai kegiatan lainnya yang harus dilakukan sejak sebelum shalat sampai dengan sesudahnya. Dengan demikian, maka hadits diatas menjelaskan babaimana seharusnya shalat dilakukan, sebagai perincian dari perintah ALLAH swt. Dalam surat AL-Baqoroh: 43, yang berbunyi:

(#qßJŠÏ%r&ur no4qn=¢Á9$# (#qè?#uäur no4qx.¨“9$# (#qãèx.ö‘$#ur yìtB tûüÏèÏ.º§9$# ÇÍÌÈ

43. dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku’lah beserta orang-orang yang ruku'[44].

[44] Yang dimaksud Ialah: shalat berjama’ah dan dapat pula diartikan: tunduklah kepada perintah-perintah Allah bersama-sama orang-orang yang tunduk.

b. Mentaqyid ayat-ayat yang muthlaq

Kata muthlaq, artinya kata yang menunjuk pada hakikat kata itu sendiri apa adanya, dengan tanpa memandang kepada jumlah maupun sifatnya. Mentaqyid yang muthlaq artinya membatasi ayat-ayat yang muthlaq dengan sifat, keadaan, atau syarat-syarat tertentu. Penjelasan Al-Qur’an yang bersifat mutklaq, antara lain dapat dilihat pada sabdanya. Yang berbunyi: “ Tangan pencuri tidak boleh dipotong, melainkan pada (pencurian senilai) seperempat dinar atau lebih”. (HR. Muslim)

       Hadits ini men-taqyid ayat Al-Qur’an surat Al-Maidah: 38, berbunyi  ä-͑$¡¡9$#ur èps%͑$¡¡9$#ur (#þqãèsÜø%$$sù $yJßgtƒÏ‰÷ƒr& Lä!#t“y_ $yJÎ/ $t7|¡x. Wx»s3tR z`ÏiB «!$# 3 ª!$#ur ͕tã ÒOŠÅ3ym ÇÌÑÈ

38. laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

c. Bayan al-Tasyri’

Kata al-Tasyri’ artinya pembuatan, mewujudkan, atau menetapkan aturan hokum. Maka yang dimaksud dengan bayan al-Tasyri’ disini, penjelasan hadits yang berupa mewujudkan, mengadakan atau menetapkan suatu hokum atau aturan-aturan syara’ yang tidak didapati nashnya dalam Al-Qur’an. Rosulullah saw dalam hal ini berusaha menunjukkan suatu kepastian hokum terhadap beberapa persoalan yang muncul pada saat itu, dengan sabdanya sendiri.

Banyak hadits Rasul saw yang termasuk kedalam kelompok ini. Diantaranya, haduts tentang hokum suf’ah, hokum merajam penzina wanita yang masih perawan, hokum tentang hak waris bagi seorang anak, dan hokum tentang ukuran zakat fitrah. Suatu contoh tentang hadits zakat fitrah, yang berbunyi, sebagai berikut:

“Bahwasanya Rasu saw telah mewajibkan zakat fitrah kepada umat islam pada bulan Ramadhan satu sukat (sha’) kurma atau gandum untuk setiap orang, baik hamba merdeka atau hamba sahaya, laki-laki atau perempuan”. (HR. Muslim). Bayan ini oleh sebagaian ulama disebut juga dengan bayan za’id ala al-kitab al-karim (tambahan terhadap nash Al-Qur’an). Karena dalam Al-Qur’an sendiri ketentuan-ketentuan pokoknya sudah ada, sehingga datangnya hadits tersebut merupakan tambahan ketentuan pokok itu.

d. Bayan al-Naskh

Kata al-Naskh secara bahasa, bermacam-macam arti. Bisa berarti al-Ibtihal (membatalkan), atau al-Izalah (menghilangkan) atau at-tahwil (memindahkan), atau at-tagyir (mengubah).

Di antara para ulama (baik mutaakhirin maupun mutaqoddimin) terdapat perbedaan dalam mendefinisikan bayan al-naskh ini. Karena perbedaan mareka dalam memahami arti nasakh dari sudut kebahasaan.

Menurut ulama’ MUTAQADIMIN, bahwa yang dimaksud bayan an-nasakh ialah adanya dalil syara’ yang datangnya kemudian dapat menghapus ketentuan yang dating terdahulu. Hadits sebagai ketentuan yang dating kemudian dari pada Al-Qur’an dalam hal ini dapat menghapus ketentuan atau isi kandungan Al-Qur’an. Demikian menurut pendapat yang menganggap adanya fungsi hadits sebagai bayan al-naskh.

Salah satu contoh yang diajukan ole para ulama’, ialah sabda rasul saw. yang dinarasikan Abu Umamah al-bahili, yang berbunyi:

“Sesungguhnya ALLAH telah memberikan kepada tiap-tiap orang haknya (masing-masing). Maka, tidak ada wasiat bagi ahli waris”. (HR. Ahmad dan Al-Arba’ah, kecuali al-Nasa’I). hadits diatas dinilai oleh Hasan oleh Ahmad dan Al-turmudzi.

Hadits ini menurut mereka me-naskh isi Al-Qur’an surat Al-Baqarah: 180, yang berbunyi:

|=ÏGä. öNä3ø‹n=tæ #sŒÎ) uŽ|Øym ãNä.y‰tnr& ßNöqyJø9$# bÎ) x8ts? #·Žöyz èp§‹Ï¹uqø9$# Ç`÷ƒy‰Ï9ºuqù=Ï9 tûüÎ/tø%F{$#ur Å$rã÷èyJø9$$Î/ ( $ˆ)ym ’n?tã tûüÉ)­FßJø9$# ÇÊÑÉÈ

180. diwajibkan atas kamu, apabila seorang di antara kamu kedatangan (tanda-tanda) maut, jika ia meninggalkan harta yang banyak, Berwasiat untuk ibu-bapak dan karib kerabatnya secara ma’ruf[112], (ini adalah) kewajiban atas orang-orang yang bertakwa.

[112] Ma’ruf ialah adil dan baik. wasiat itu tidak melebihi sepertiga dari seluruh harta orang yang akan meninggal itu. ayat ini dinasakhkan dengan ayat mewaris. Kewajiban melakukan wasiat kepada kaum kerabat dekat berdasarkan surat diatas, di-nasakh hukumnya oleh hadits yang menjelaskan, bahwa kepada ahli waris tidak dilakukan wasiat.

Secara garis besar ada empat fungsi utama hadits nabi saw, terhadap Al-Qur’an ada tiga, yaitu:

  1. Menetapkan dan menguatkan hokum yang ada dalam Al-Qur’an dengan demikian sebuah hokum dapat memiliki dua sumber hokum sekaligus yaitu Al-Qur’an dan Hadits.

Misalnya tentang kewajiban sholat, zakat, dan lain sebagainya:

  1. Memperinci dan menjelaskan hokum-hukum dalam Al-Qur’an yang masih global, membatasi yang muthlaq dan mentakhsis keumuman ayat Al-Qur’an. kesemuanya itu dilakukan dalam rangka menjelaskan maksud Al-Qur’an. Atau menjelaskan apa yang dikehendaki oleh Al-Qur’an. Misalnya perintah Al-Qur’an tentang mendirikan sholat, maka hadits menjelaskan secara terperinci tentang teknis pelaksanaan sholat.
  2. Membuat atau menetapkan hokum yang tidak ditetapkan dalam Al-Qur’an misalnya, larangan memakan binatang buas baik yang bertaring ataupun berkuku, larangan memakai pakaian sutra dan cincim mas bagi laki-laki.

Dengan memperhatikan dalil-dalil dan kehujjahan hadits serta fungsi hadits terhadap Al-Qur’an maka tidak ada alasan untuk menolak keberadaan hadits sebagai sumber ajaran agama islam. Beberapa dalil diatas, baik yang bersifat aqli maupun naqli telah cukup merepresentasikan keberadaan hadits sebagai sumber hokum ajaran agama islam.

ا لحمد للّه ر بّ ا لعا لمين

 

DAFTAR  PUSTAKA

Fatchurrahman, Ikhtisar Musthalahul Hadits, Bandung: al-ma’arif, 1987.

Hashim, Ahmad ‘Umar, Qawa’id Usulal al-hadith ,t.t. :Dar al-fikr, t.t.

Shahih, Subhi, ‘Ulum al-Hadit wa Musthalahul , Beirut: Dar al-‘Ilm al-Malayin, 1988.

Khallaf, Abd Wahhab, ‘Ilm ushul al-Fiqh ,Kuwait: Dar al-Qalam, 1978. 


[1] Fatc

hurrahman, ikhtishar Musthalahul haadits (Bandung: al-Ma’arif, 19b7)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s